Dialog Imajiner: Mungkin lebih baik kau mengetahui ‘rupaku’ sebelum kau pergi
Mana yang lebih menyakitkan ketika kita mengetahui keburukan seseorang yang kita sayangi di saat kita masih berada di dekat seseorang tersebut atau di saat kita telah berada jauh dengan seseorang tersebut?
Dari pertanyaan itu aku jadi teringat dan membayangkan sebuah kisah seorang ibu dan seorang anak pada detik-detik terakhir menjelang perpisahan mereka. Saya sebagai seorang anak merasa yakin bahwa apa yang diketahui ibuku tentang aku, dulu, tak semuanya diketahuinya. Mungkin ibuku, dulu, mengetahui aku sebagai seorang anak remaja yang biasa-biasa saja, anak remaja yang tak ikut-ikutan arus kenakalan remaja yang berlebihan. Barangkali begitu. Karena ibuku, dulu, tak sepenuhnya memantau kegiatanku sehari-hari. Dulu, ketika aku melakukan kegiatan di luar rumah yang jika saja ibuku tahu mungkin beliau akan marah atau mungkin menangis. Jarak pandang mata manusia sangat terbatas, juga tak bisa menembus bidang padat yang tak transparan. Kata orang dan menurut pengalaman pribadiku, ibu bisa memantau apapun tentang anaknya melalui mata batinnya. Namun kembali lagi, batin hanya subjektif. Memantau melalui mata batin tak bisa memunculkan bukti yang konkret dan objektif. Ibuku tak cukup bukti untuk menudingku dan mengatakan aku telah berbuat ‘nakal yang berlebihan’ di luar rumah hanya dengan mengandalkan mata batinnya. Dalam interval nilai: A sampai E, apa yang diketahui ibuku tentang ‘aku’, dulu, barangkali bernilai B padahal sebenarnya aku bernilai D, lebih parah lagi bisa jadi aku bernilai E. Kembali pada pertanyaan awal tadi, aku akan menjawab: lebih baik aku mengetahui keburukan seseorang yang kita sayangi di saat kita masih berada di dekat seseorang tersebut. Aku mewakili jawaban ibu, entah ibu setuju atau tidak, aku akan mengutarakan jawaban yang sama seperti jawabanku. Andai kata ibu setuju dengan jawaban yang aku utarakan seharusnya di detik-detik terakhir menjelang perpisahanku dengan ibu, dulu, aku mustinya menyalakan rokok dan merokok di depan ibu, sebagai simbol atas semua keburukanku yang tak diketahui ibuku. Dengan begitu, ibuku akan mengetahui keburukanku sebelum beliau pergi dan berada di suatu tempat yang sangat jauh dariku. Suatu tempat yang belum pernah aku tahu seperti apa rupanya. Dari pada ibu mengetahui semua keburukanku dari jendela langit, mungkin ibu akan menangis di sana.
Untuk ibu:
Melalui ceritaku itu, bukan berarti aku akan mempertahankan keburukanku bu. Bukan berarti aku berbangga hati menjadi orang yang bernilai E. Aku hanya membayangkan, jika saja sebelum ibu pergi ibu telah mengetahui seperti apa ‘rupaku’, dulu. Aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari –ah klise ya bu–. Aku mencintaimu. Sampaikan salamku untuk Helen. Aku sangat mencintai dan merindukan kalian.
