denmas theo

Dialog Imajiner: Mungkin lebih baik kau mengetahui ‘rupaku’ sebelum kau pergi

Mana yang lebih menyakitkan ketika kita mengetahui keburukan seseorang yang kita sayangi di saat kita masih berada di dekat seseorang tersebut atau di saat kita telah berada jauh dengan seseorang tersebut?

Dari pertanyaan itu aku jadi teringat dan membayangkan sebuah kisah seorang ibu dan seorang anak pada detik-detik terakhir menjelang perpisahan mereka. Saya sebagai seorang anak merasa yakin bahwa apa yang diketahui ibuku tentang aku, dulu, tak semuanya diketahuinya. Mungkin ibuku, dulu, mengetahui aku sebagai seorang anak remaja yang biasa-biasa saja, anak remaja yang tak ikut-ikutan arus kenakalan remaja yang berlebihan. Barangkali begitu. Karena ibuku, dulu, tak sepenuhnya memantau kegiatanku sehari-hari. Dulu, ketika aku melakukan kegiatan di luar rumah yang jika saja ibuku tahu mungkin beliau akan marah atau mungkin menangis. Jarak pandang mata manusia sangat terbatas, juga tak bisa menembus bidang padat yang tak transparan. Kata orang dan menurut pengalaman pribadiku, ibu bisa memantau apapun tentang anaknya melalui mata batinnya. Namun kembali lagi, batin hanya subjektif. Memantau melalui mata batin tak bisa memunculkan bukti yang konkret dan objektif. Ibuku tak cukup bukti untuk menudingku dan mengatakan aku telah berbuat ‘nakal yang berlebihan’ di luar rumah hanya dengan mengandalkan mata batinnya. Dalam interval nilai: A sampai E, apa yang diketahui ibuku tentang ‘aku’, dulu, barangkali bernilai B padahal sebenarnya aku bernilai D, lebih parah lagi bisa jadi aku bernilai E. Kembali pada pertanyaan awal tadi, aku akan menjawab: lebih baik aku mengetahui keburukan seseorang yang kita sayangi di saat kita masih berada di dekat seseorang tersebut. Aku mewakili jawaban ibu, entah ibu setuju atau tidak, aku akan mengutarakan jawaban yang sama seperti jawabanku. Andai kata ibu setuju dengan jawaban yang aku utarakan seharusnya di detik-detik terakhir menjelang perpisahanku dengan ibu, dulu, aku mustinya menyalakan rokok dan merokok di depan ibu, sebagai simbol atas semua keburukanku yang tak diketahui ibuku. Dengan begitu, ibuku akan mengetahui keburukanku sebelum beliau pergi dan berada di suatu tempat yang sangat jauh dariku. Suatu tempat yang belum pernah aku tahu seperti apa rupanya. Dari pada ibu mengetahui semua keburukanku dari jendela langit, mungkin ibu akan menangis di sana.

Untuk ibu:

Melalui ceritaku itu, bukan berarti aku akan mempertahankan keburukanku bu. Bukan berarti aku berbangga hati menjadi orang yang bernilai E. Aku hanya membayangkan, jika saja sebelum ibu pergi ibu telah mengetahui seperti apa ‘rupaku’, dulu. Aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari –ah klise ya bu–. Aku mencintaimu. Sampaikan salamku untuk Helen. Aku sangat mencintai dan merindukan kalian.

bukan perihal yang tak bisa terungkap, tapi tentang yang tak pantas diungkap oleh ucap.

—kemarilah, mari aku tunjukkan.

di beranda saya. dua cangkir kopi di atas meja kecil, sayup-sayup percakapan. ternyata, hati dan pikiran saya sedang berbicara tentang kita.

bulan mencintai matahari dengan diam, siang hari. sediam-diamnya cinta, akan tertampak juga. aku sering melihat bulan saat matahari belum usai.

bulan mencintai matahari dengan diam, siang hari. sediam-diamnya cinta, akan tertampak juga. aku sering melihat bulan saat matahari belum usai.

andai rindu tak tuli atau paling tidak ia bisa membaca, akan kusuruh ia jalan sendiri ke alamat tujuan. tanpa perlu mengantar.

dalam kereta tanpamu, kasihan para penjual kopi keliling. tak bakal ku beli kopi, apalagi meminumnya, pasti pahit tak ada manis-manisnya.

jika bahasa menggambarkan kasta. apakah kalimat “aku mencintaimu” ku untukmu semalam terlalu mewah, sayang? bilanglah, karena aku ingin mencintaimu dengan sangat sederhana.

kutulis namamu di layang-layang. setelah terbang lalu kuputuskan benang. pergilah jauh, kenangan suram.

Maudy Ayunda

—Perahu Kertas

gadishujan:

Perahu Kertas-Maudy Ayunda 


Perahu kertasku kan melaju membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila, tapi ini adanya
Perahu kertas mengingatkanku betapa ajaib hidup ini
Mencari-cari tambatan hati, kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi (cinta-cinta) cita-cita (cinta-cinta) 
Yang lama ku pendam sendiri, berdua ku bisa percaya

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Tiada lagi yang mampu berdiri 
Halangi rasaku, cintaku padamu

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Oh bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

jika dirumuskan, barangkali cinta sama halnya dengan “semua bilangan dibagi nol”. tak terdefinisi.