dua hal yg sangat sulit aku bedakan ialah antara kamu yang pura-pura tak peduli atau benar-benar tak peduli saat aku pura-pura mengabaikanmu.
—aku yang pura-pura mengabaikanmu
—aku yang pura-pura mengabaikanmu
—untuk kita yang dari dulu hanya rencana
—heuheu
—kamu yang masih pelangi
—yuk mari belajar bersama menjadi murid yang baik untuk guru yang terbaik.
—bahagia itu sederhana kan?
—(@hurufkecil, aanmansyur)
—nyatanya aku tak setuju dengan hakikat kata adil, cukup jelas kan.
aku menulismu dengan ruang remang, dalam ruang juang, kadangkala hutang.
aku menulismu dengan irama hujan, yang waktu senja aku kecil dulu sering dibuat murung olehnya.
aku menulismu dengan tangan kanan, jari kekasihnya sedang mengapit rokok.
aku menulismu dengan aku yang sedang diperingatkanNya, tanda kasih sayang.
aku menulismu dengan membayangkan kenangan, putri kartini di kota itu kekasihku dulu.
dalam ruang remang, hujan kala senja
aku yang sedang diperingatkan, hingga aku dipeluk kenangan.